srowot

Kegiatan magang yang pertama saya lakukan di Gedhe Foundation adalah mengunjungi radio Dian Swara, yang merupakan salah satu radio swasta yang ada di Purwokerto. Gedhe Foundation sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang aktif dalam perdesaan menjadi fasilitator dalam membantu desa yang ingin menyuarakan atau sharing tentang potensi desa mereka salah satunya melalui siaran radio.

Nama program siaran tentang desa di radio Dian Swara itu Najajah Desa, di siarkan setiap rabu pukul 16.00 WIB dan bisa di dengarkan di frekuensi 98.2 FM. Saat saya kesana bersama teman saya Bagus Tri Indriyanto, Reza Aditya Pratama dan pembimbing magang kami di Gedhe Foundation yaitu mbak Sukarni. Di sana kami bertemu dengan Kepala Desa Srowot Bapak Handoyo dan beberapa perwakilan warga Srowot yang akan siaran di radio Dian Swara mengenai potensi desanya.

Sambil menunggu waktu siaran, kami sempat berbincang bersama ibu-ibu perwakilan warga Srowot, yaitu Ibu Paryati, Khotijah, dan Ani Puji Lestari, dimana mereka tergabung dalam Kelompok Batik Saskara yang anggotanya berjumlah 15 orang. Kelompok Batik Saskara adalah perkumpulan ibu-ibu PKK Desa Srowot yang sedang merintis usaha memproduksi batik. Batik yang diproduksi adalah jenis batik cap dan batik tulis, untuk motifnya sendiri ada 3 motif, yaitu motif Boledan, motif ini dijadikan motif unggulan dan ada juga motif Lumbon dan Tantaian, motif Boledan diciptakan sendiri oleh Bapak Handoyo.

Dengan adanya kegiatan siaran ini, diharapkan desa-desa yang ada sekarang lebih percaya diri dan berani menunjukkan dan menyuarakan potensi yang meraka miliki, sekalligus berbagai ilmu dengan desa-desa lainnya dan sebagai tujuan akhirnya adalah masyarakat desa yang sejahtera.

Desa sering kali menjadi tempat yang di identikan sebagai lokasi yang penduduknya dianggap tertinggal, baik bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lain sebagainya, di bandingkan dengan kota, dimana kota itu dipandang sebagai lokasi yang dianggap masyarakat luas sebagai lokasi yang dikelilingi teknologi maju dan diisi juga dengan orang yang memiliki intelektual tinggi, jadi kota selalu meduduki strata atas sedangkan desa menduduki strata bawah. Padahal desa yang sekarang sudah mulai berbeda dengan desa yang dahulu, desa yang sekarang sudah mulai bangkit dan bergerak maju membangun kehidupan masyarakatnya.
Seperti yang dilakukan oleh Gerakkan Desa Membangun (GDM), gerakan yang dirintis oleh 5 desa yaitu Desa Melung, Desa Karangnangka, Desa Kutaliman, Desa Dawuhan Wetan dan Mandalamekar bersama Gedhe Foundation, dari titik inilah mulai adanya Gerakan Desa Membangun (GDM). Tujuan inti dari Gerakan Desa Membangun ini adalah desa bisa berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) dan desa-desa yang ada itu bisa berbagi ilmu yang mereka miliki kesesama warga desa yang lain melalui website yang dibuat di setiap desa, website tersebut bisa diisi potensi-potensi yang ada di desa dan tips atau cerita inspiratif yang bisa di baca dan membantu mendorong desa lain untuk saling belajar dan berbagi pengetahuan demi kemajuan bersama.
Dari adanya Gerakan Desa Membangun dari kelima desa yang menjadi perintis, desa-desa itu mulai menggunakan teknologi untuk membantu mereka dalam usaha memajukan desa, seperti yang ada di Desa Melung, dimana di Desa Melung sudah digunakan wifi gratis untuk penduduk desa, wifi tersebut dibeli dengan menggunakan dana desa.
Dengan adanya wifi, warga masyarakat bisa mengakses dan memanfaatkan internet sebagai media mereka belajar dan meliat dunia lebih luas melalui internet, misalnya mencari informasi pertanian, seperti bibit, pupuk, dan pengolahan tanah yang baik, bisa juga digunakan sebagai media pemasaran produk seperti yang dilakukan di Desa Dawuh Wetan, dimana produk desa yang sedang naik daun adalah Merica Perdu di pasarkan melalui internet. Pemasaran Merica Perdu ini dilakukan oleh perseorangan dengan modal pribadi.
Selain untuk media belajar dan kepentingan ekonomi, teknologi bisa digunakan sebagai sarana pelayanan dan pendataan masyarakat desa. Untuk pelayanan dan pendataan desa menggunakan komputer dan internet akan memaksimalkan serta efisiensi kerja dari aparatur pemerintahan desa, jadi pemerintah desa tidak lagi harus pergi ke instansi lain untuk mendapatkan data yang diinginkan, mereka bisa memanfaatkan komputer dan internet untuk mendata segala macam data mulai data jumlah penduduk, umur, pekerjaan, pendidikan dan lain sebainya, dengan semakin lengkapnya data yang dimiliki pemerintahan desa maka pelayanan pada warga masyarakatnya akan lebih lebih maksimal, dengan Gerakan Desa Membangun ttidak hanya para aparatur desa tetapi warga masyakatnya sudah harus mulai sadar dan mulai berdiri diatas kaki sendiri (berdikari) dalam membangun desanya sendiri.
Jadi menurut pendapat saya inisiatif Gerakan Desa Membangun adalah suatu inisiatif yang bagus dan berani, karena seperti yang diketahui pemerintahan desa masuk dalam jajaran pemerintahan di tingkat bawah tetapi mereka langsung bersinggungan langsung dengan masyarakat secara intensif, dimana hal inilah yang tidak dilakukan pemerintah pusat, karena pemerintah desa sebagai pelaksana langsung mereka mengetahui apa saja kebutuhan yang diperlukan oleh desa, tetapi meski mengetahui kebutuhan terkadang pemerintah pusatnlah yang menentukan kebijakan meski mereka tidak mengetahui kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh desa, jadi sebaiknya memang pemerintah desa dan warga masyarakat sendirilah yang membangun desanya, membangun tersebut bisa dalam bentuk apa saja, misalnya mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh desa, karena bantuan dari pusat tidak selalu tepat sasaran dan tidak tepat guna bagi desa. Dengan semangat membangun dari bawah keatas saya lebih baik dari pada pembangunan dari atas kebawah.

Berwisata merupakan salah satu kebutuhan dari manusia, dimana wisata bisa menjadi hiburan, pengobat lelah dan penak dari aktivitas rutin sehari-hari seperti bekerja dan sekolah, wisata bisa dilakukan dimana saja, dan di setiap tempat wisata itu mempunyai keunikan sendiri-sendiri dan pastinya berbeda dengan tempat wisata lainnya.
Salah satu tempat wisata yang sekarang sedang naik daun di Banyumas adalah Bukit Tranggulasi, tempat wisata ini terletak di Desa Windujaya, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas, tempat ini mulai di kenal masyarakat lewat sosial media yaitu Instagram, dengan mulai makin banyaknya netizen yang memposting foto-foto yang diambil mereka ambil dari bukit ini membuat Bukit Tranggulasi mulai dikenal.
Karena masih tergolong tempat wisata yang baru dibuka, infrastruktur yang ada seperti akses jalan ke lokasinya masih sederhana, jalannya hanya di cor dikanan kirinya, dan lebarnya pun hanya sekitar 3 meter, sehingga mobil tidak bisa naik ke tempat parkir bagian atas, dan harus parkir di bawah lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, sedangkan untuk sepeda motor bisa langsung naik dan parkir di tempat parkir bagian diatas. Tarif parkir di Bukit Tranggulasi untuk kendaraan roda 4 sebesar Rp. 10.000, untuk kendaraan roda dua sebesar Rp. 3.000, disini belum ada tiket masuknya sehingga pengunjung hanya dikenakan tarif parkir kendaraan.
Menurut cerita dari Bapak Diram (45) yang bekerja sebagai penjaga kebersihan serta penjaga kotak sumbangan suka rela di Bukit Tranggulasi, kawasan bukit ini adalah tanah milik pribadi yang luasnya kurang lebih 6,5 hektar. Pemilik tanah ini adalah seorang jaksa yang bekerja di Jakarta yang mempunyai rumah di Desa Sumpiuh, kepemilikan tanah ini sempat mengalami pergantian kepemilikan beberapa kali. Menurut Bapak Diram, kepemilikan tanah Bukit Tranggulasi ini awalnya dimiliki oleh orang dari Purwokerto, lalu dijual ke orang Bali, Cilacap dan akhirnya di beli lagi oleh orang Purwokerto.
Bukit Tranggulasi sendiri mulai ramai karena adanya aktivas mahasiswa-mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) yang melakukan camping di bukit tersebut, dan menurut Bapak Miswandi aktivitas tersebut sudah mulai sejak tahun 2013, awalnya hanya mahasiswa UNSOED yang camping disana, tapi perlahan pengunjung tidak hanya hanya dari Purwokerto, tetapi ada yang dari Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta.
Sang pemilik tanah menurut Bapak Miswandi (62) tidak mengambil pungutan dari warga masyarakat yang mendirikan warung di tanahnya, warga sekitar boleh mengelola Bukit Tranggulasi tersebut, tetapi jika pemilik tanah pulang dan ingin camping, warga diminta menyediakan tempat untuk untuk si pemilik dan keluarganya.
Di kawasan wisata ini terdapat 4 bukit yang bisa dikunjungi, jaraknya berdekatan dan untuk mencapainya pengunjung harus menaiki jalan setapak yang dibuat seperti anak tangga dengan bambu sebagai penahannya, jika sudah sampai diatas bukit, bukit yang pertama kali di jumpai adalah Bukit Datar, di Bukit Datar banyak area-area yang tanahnya datar dan cukup luas guna mendirikan tenda untuk camping.
Jika berjalan lagi pengunjung bisa melihat jajaran warung makan milik warga sekitar yang didirkan di area Bukit Datar, selain warung makan pengunjung bisa menjumpai sisa-sisa bangunan Belanda yang dulu pernah ada di sana, sisa bangunnya berupa pondasi, wastafel, dan watu giling yang ukurannya besar, setelah itu pengunjung akan menjumpai Bukit Cinta Suramenggala dan Bukit Tinggi yang letaknya bersebalahan, dimana sesuai namanya Bukit Tinggi merupakan bukit yang paling tinggi dan di bukit ini pengunjung bisa melihat sepuasnya pemandangan Kota Purwokerto dan sekitanrnya dari sini, dengan pemandangan yang menakjubkan serta hembusan hawa dingin khas dataran tinggi ini akan membuat siapa saja akan merasakan rileks dan bisa melupakan sejenak rutinitas sehari-hari mereka.
Dan bukit terakhir adalah Bukit Tranggulasi, di bukit ini terdapat beberapa bangku yang terbuat dari bambu, dan dari sini pengunjung bisa melihat pemandangan Gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Dan di Bukit Tranggulasi dapat dijumpai sebuah makam kuno yang sudah ada sejak jaman Belanda, menurut Bapak Diram makam itu adalah makam dari Melati Sari, konon di kawasan Bukit Tranggulasi terkubur harta karun yang berupa emas yang jumlah banyak, dan makam dari Melati Sari ini sempat digali oleh orang tidak bertanggung jawab yang berusaha mencari harta karun tersebut dan alhasil makamnya rusak dan nisannya patah, tapi sekarang nisan yang patah tersebut sudah di satukan lagi oleh warga.
Dengan adanya potensi wisata ini, maka bisa menjadi rejeki bagi warga Desa Windujaya, karena mereka bisa berjualan makanan dan minuman serta menyewakan peralatan camping di kawasan wisata, tetapi obyek wisata ini juga harus di urus oleh pemerintah daerah dengan membangun infrastruktur pendukung seperti jalan dan penerangan agar potensi wisata Bukit Tranggulasi bisa dimanfaatkan secara optimal.

Nama : Raya Surya Samudera
NIM : D0313059
Blog : samudera.blog.fisip.uns.ac.id

DANIEL BELL

Dalam pemikirannya, Daniel Bell berusaha untuk menangani masalah-masalah sosiologis dengan maksud menjembatani kesenjangan antara sosiologi akademis dan disiplin-disiplin akademis. Sebagaimana Mills dan Etzioni, Bell juga terikat pada sosiologi yang relevan, yaitu sosiologi yang siap memecahkan masalah-masalah kemasyarakatan berskala luas.
Pendekatan sosiologis yang khusus dari Bell ini dikenal sebagai ramalan sosial (social forecasting). Ramalan sosial menggabunngkan perspektif makroteoriti, yang merupakan bagian dari perspektif sosiologi klasik, dengan minat yang diperbaharui dalam sosiologi yang relevan dan bermanfaat, yang membicarakan kondisi-kondisi masa kini. Bell membedakan ramalan sosial dengan usaha-usaha prediksi sosiologis yang lebih awal. Prediksi menyangkut hasil peristiwa-peristiwa seperti siapa yang akan menang dalam pemilihan umum atau yang akan kalah dalam perang, prediksi yang demikian itu tidak dapat diformalisir, dalam arti tidak dapat ditundukkan pada hukum-hukum . sementara itu ramalan sosial mencoba membuat garis besar peringkat kemungkinan dari berbagai kecenderungan historis. Hal ini hanya mungkin bilamana terdapat kecenderungan kuat yang arahnya dapat disajikan dalam seritempo secara statistik dirumuskan sebagai kecenderungan-kencederungan historis. Menurut Bell ramalan sosial hanya mungkin bila orang dapat menerima adanya suatu tingkat rasionalitas yang tinggi di kalangan mereka yang bisa mempengaruhi peristiwa-peristiwa.
Akan tetapi, dalam situasi nyata rasionalitas yang demikian jarang terjadi. Hal ini terutama berlaku dalam lapangan politik, dimana banyak terdapat privilege dan prasangka, bukannya perilaku rasional yang konsisten, yang menandai peristiwa-peristiwa manusia. Bila hanya demikian, apa sebenarnya manfaat dari peramal-peramal sosial itu ?, menurut Bell, walaupun mereka tidak mampu meramalkan hasil-hasil, tetapi dapat memperinci berbagai rintangan atau batas-batas di mana berbagai keputusan kebijakan dapat lebih diefektifkan. Dengan demikian perincian rintangan-rintangan tersebut merupakan tugas dari ramalan sosial itu.
Disamping ramalan sosiologis terdapat juga bentuk-bentuk ramalan lain. Misalnya, ramalan teknologis yang mengindentifikasi berbagai rintangan dalam pengembangan teknologi, ramalan demografis yang mempertengahkan ramalan statistik kependudukan, ramalan ekonomi, termasuk survei sederhana mengenai pasar, pembentukan indeks harga konsumen, dan tingkat pengerjaan dan lain sebagainya yang berfungsi sebagai indikator kegiatan dunia usaha, dan ramalan politik yang berkenaan dengan kecenderungan dalam dunia politik. Perbedaan terpenting diantara berbagai tipe ramalan tersebut ialah raamalan sosial yang menggunakan variabel-variabel sosiologis bukannya variabel politik, teknologi, ekonomi, dan demografi sebagai variabel independen yang mempengaruhi perilakku berbagai variabel lain.
Hipotesa utama Bell ialah bahwa dunia barat sedang mengalami transisi dari masyarakat industri menuju masyarakat post-industri. Konsep masyarakat post-industri ini dapat lebih dipahami lewat lima deminsi, dimensi yang pertama adalah dimensi ekonomi, dimana masyarakat penghasil barang beralih menjadi masyarakat penghasil jasa. Karena industri bangsa semakin maju , semakin besar prosentase angkatan kerja yang bergerak meninggalkan sektor pertanian atau perkebunan menuju ke sektor manufaktur ekonomi. Karena terjadi kenaikan pendapatan nasional, sebagai konsekuensi dari transisi itu, maka permintaan di sektor jasa akan menjadi lebih besar. Bell menyatakan bahwa , Amerika serikat dewasa ini merupakan satu-satunya negara di dunia di mana sektor jasa bertanggung jawab bagi lebih separuh pengerjaan total dan menarik lebih dari separuh hasil pendapatan nasional. Dimensi yang kedua adalah dimensi pekerjaan, dimana terdapat perubahan dalam jenis kerja, yaitu keunggulan kelas profesional dan teknis, di Amerika serikat di tahun 1956 untuk pertama kali dalam sejarah peradaban industri, jumlah karyawan berkerah putih (white collar) dalam struktur pekerjaan telah melampaui jumlah karyawan berkerah biru (blue collar).

Pertumbuhan pekerjaan profesional dan teknis itu bahkan lebih mengejutkan lagi. Kelompok yang terdiri dari para ilmiawan, insinyur, teknisi, personil ahli kesehatan dan obat-obatan, guru dan pekerjaan lain yang seperti itu sudah merupakan jantung masyarakat post-industri.
Dimensi yang ketiga adalah pemusatan teoritis sebagai inovasi dan pembentukan kebijaksanaan bagi masyarakat. Perubahan dalam dimensi pengetahuan dapat dilihat dari perbedaan masyarakat post-industri dan masyarakat indutri. Dalam memproduksi barang, dalam masyarakat industri hubungan utama terletak pada koordinasi manusia dan mesin. Dalam pandangannya Bell menyatakan masyarakat post-industri terorganisasi di sekitar pengetahuan, demi tujuan kontrol sosial dan pengarahan inovasi serta perubahan, dan hal ini sebaliknya melahirkan hubungan-hubungan sosial dan struktur-struktur baru yang harus ditangani secara politis. Dalam masyarakat post-industri pengetahuan teoritis abstrak lebih unggul dari pengetahuan empiris yang konkrit. Pengetahuan teoritis ini penting sebagai sumber bagi keputusan-keputusan kebijakan. Dimensi keempat ialah orientasi masa depan, yang mengendalikan teknologi dan penaksiran teknologis. Dengan kata lain masyarakat post industri bisa berencana dan mengontrol pertumbuhan teknologi itu daripada hanya membiarkan segalanya terjadi. Dimensi kelima mencakup pengambilan keputusan dan penciptaan teknologi intelektual baru. Dimensi ini berhubungan dengan metode atau cara-cara memperoleh pengetahuan. Teknologi intelektual mencakup penggunaan pengetahuan ilmiah untuk memperinci cara melakukan sesuatu dengan cara yang dapat diulang melalui subtitusi aturan-aturan, emecahan masalah bagi penilaian-penilaian yang sifatnya intuitif.
Konsep masyarakat post-industri dapat dipahami kalau dibandingkan dengan atribut-atribut masyarakat pra-industri dan indutri. Sebagian besar negara yang beraada di benua Asia, Afrika dan Amerika Latin masih merupakan negara pra-industri. Disini kegiatan sektor ekonomi terutama dilandaskan pada hasil-hasil pertanian, pertambangan, perikanan, dan kayu. Kehidupan masih merupakan permainan menentang alam, bergantung pada musim, sifat-sifat lahan dan persediaan air. Masyarakat industri, termasuk Eropa Barat, Uni Soviet dan Jepang merupakan penghasil barang-barang. Selanjutnya menurut Bell kehidupan adalah pergulatan menguasai alam. Dunia menjadi semakin teknis dan rasional. Mesin berkuasa, dan ritme kehidupan ditempuh secara mekanis, waktu merupakan kronologis, metodis, bahkan terpisah-pisah. Energi sudah menggantikan otot dan menyediakan tenaga sebagai basis produktivitas, seni membuat barang lebih banyak dilakukan dengan tenaga yang lebih sedikit, dan bertanggung bjawab bagi keluaran barang-barang massal yang merupakan ciri masyarakat industri. Energi dan mesin sudah menggantikan hakikat kerja. Masyarakat post-industri, di mana Amerika Serikat sebagai contoh, adalah masyarakat yang berdasarkan jasa. Bukannya permainan menentang alam atau pergulatan menguasai alam, masyarakat ini benar-benar merupakan permainan antar pribadi. Bukannya bergantung pada kekuatan otot telanjang seperti masyarakat pra-industri, masyarakat post industri bertumpu pada informasi. Dalam masyarakat post-industri kaum profesional semakin dibutuhkan karena memiliki informasi yang dibutuhkan.
Menurut Bell dalam masyarakat banyak sekali terjadi perubahan-perubahan struktural yang mempengaruhi pengetahuan dan teknologi. Pertumbuhan penting tak hanya terjadi dalam tingkat penemuan-penemuan saja, tapi dalam skala kehidupan pun terjadi peningkatan-peningkatan yang lebih tinggi dari periode indutri sebelumnya dimana salah satunya adalah lahirnya struktur kelas baru masyarakat post-industri. Bell berteori bahwa di dalam masyarakat post-industri politik akan memainkan peranan lebih besar ketimbang sebelumnya. Kiranya pasar bukan sebagai penentu pengambilan keputusan, keputusan yang mengalokasikan berbagai sumber akan semakin berada di pusat politik atau pemerintahan. Karena perbedaan nilai dan kepentingan sangat beragam maka konflik dan ketegangan yang disebabkan langkanya sumber-sumber moneter merupakan hal yang tak dapat dihindari.
Dalam masyarakat post-industri akan terdapat sejumlah besar pertumbuhan di lapangan on-profit di luar bisnis dan pemerintahan, di mana yang dimaksud adalah sekolah, rumah sakit, lembaga penelitian, asosiasi suka rela dan lain sebagainya. Di saat yang sama korporasi bisnis paling tidak untuk sementara tetap merupakan jantung masyarakat. Oleh karena itu dalam studi masyarakat post-industri korporasi tidak diabaikan. Bell menganalisa ciri-ciri dan masa depan dua mode yaitu mode economizing dan mode sociologizing dalam masyarakat post-industri. Yang pertama mode economizing, setelah industriaalisasi lahir, suatu masyarakat hampir tidak mungkin meningkatkan kekayaan dan menaikkan standard hidupyang mantap dengan menggunakan sarana-sarana damai. Sebagaian besar kehidupan ekonomi sudah merupakan suatu zero-sum game, di mana pemenang meraih kekayaan lewat perang, perampokan, perampasan dan sebagainya, sambil merugikan pihak lain. Peningkatan poduktivitas berasal dari gabungan usaha-usaha berbagai insinyur yang merencanakan mesin-mesin serta ahli ekonomi yang mampu meningkatkan efisiensi produksi dan di mode ini itu lebih menekankan pada konsumsi pribadi individu dibanding kepentingan umum.
Mode yang kedua adalah mode sociologizing, Bell memberi batasan mode sociologizing sebagai usaha untuk menimbang kebutuhan masyarakat dengan cara yang lebih disadari dan melakukan hal itu di atas dasar beberapa konsepsi kepentingan umum yang eksplisit. Mode ini mencakup dua masalah mendasar, yang pertama pemantapan keadilan sosial secara sadar dengan mengikutkan semua orang yang adal dalam masyarakat, dan yang kedua adalah kesadaran bahwa barang-barang sosial adalah kepentingan komunal atau politik bukan kepentingan individu. Mode sociologizing harus mencoba merencanakan sebuah masyarakat yang rasional. Bell menyatakan bahwa, di masa datang masalah sosiologis yang utama ialah pengujian kemampuan kita meramalkan berbagai akibat perubahan sosial dan teknologi dan membentuk tujuan-tujuan alternatif yang sesuai dengan penilaian-penilaian akhir yang berbeda, atas setiap resiko yang berlainan.
Selanjutnya Bell juga menyatakan bahwa munculnya jenis masyarakat yang baru sering menimbulkan masalah distribusi kekayaan, kekuasaan dan status. Sesuai dengan sistem stratifikasi dan kekuasaan masyarakat post-industri dapat dibandingkan dengan tipe masyarakat awal pra-industri dan masyarakat industri. Sistem stratifikasi dan kekuasaan berdasarkan atas alokasi sumber-sumber langka. Sumber utama masyarakat pra-industri ialah tanah, dan figur dominan yang muncul adalah pemilik tanah dan militer yang melindungi tanah itu, sedang kekuasaan mereka berdasarkan atas kekuatan. Dalam masyarakat industri yang berkuasa adalah kaum pengusaha, kekuasaan mereka berdasarkan pengaruh tak langsung dalam politik. Dalam masyarakat post-industri, kekuasaan berada di tangan universitas dan lembaga-lembaga, sedang figur dominan ialah kaum ilmuwan dan peneliti. Sarana-saran kekuasaan ialah keseimbangan antara tenaga-tenaga rasional yang disediakan oleh para ilmuwan dan kekuatan-kekuatan politik yang diperhitungkan yang dijalankan oleh elit kekuasaan dan politik bukan hanya suatu sistem rasional. Dengan demikian dalam masyarakat post-industri politik semakin berperan dan politik tak hanya sebagai suatu sistem rasional dalam pengertian yang sama dengan yang terdapat dalam teknologi dan ilmu.

Daftar Pustaka
Poloma, Margaret M. 2000. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Turner, Bryan S. 2008. Runtuhnya Universitas Sosiologi Barat. Jogjakarta: Ar-ruzz media.

Nama : Raya Surya Samudera
NIM : D0313059
Blog : samudera.blog.fisip.uns.ac.id
GEORGE HEBERT MEAD
George H. Mead lahir di South Hadly, Massachusetts, pada 27 Februari 1863, Mead dilatih terutama di bidang filsafat dan penerapannya bagi psikologi sosial. Dalam pandangan Mead, psikologi sosial tradisional mulai dengan psikologi mengenai individual dalam usaha untuk menjelaskan pengalaman sosial, kontrasnya, Mead selalu memberi prioritas kepada dunia sosial dalam memahami pengalaman itu. Untuk menjelaskan fokus apa yang diambilnya, Mead menjelaskan bahwa kita tidak membangun perilaku kelompok sosial dalam istilah-istilah perilaku para individu terpisah yang menyusunnya, dimana kita memulai dengan suatu kesuluruhan sosial tertentu kegiatan kelompok yang kompleks, ke dalamnyalah kita menganalisis sebagai unsur-unsur perilaku tiap individu terpisah yang menyusunnya dimana untuk menjelaskan perilaku kelompok sosial dari segi kelakuan individu-individu terpisah yang termasuk ke dalamnya. Untuk psikologi sosial keseluruhan masyarakat ada lebih dulu dibanding bagian individu, bukan bagian mendahului keseluruhan, dan bagian yang dijelaskan dari segi keseluruhan, bukan keseluruhan dari segi bagian atau bagian-bagian.
Selanjutnya Mead menerangkan tentang tindakan, dimana tindakan ini menurut Mead adalah sebagai unit paling primitif di dalam teorinya. Dalam menganalisis tindakan, Mead melangkah paling dekat dengan pendekatan behavioris dan berfokus pada stimulus dan respons. Dalam tindakan Mead mengenali empat tahap dasar dan dari tahapan ini mereka saling berhubungan di dalam tindakan, yang pertama adalah Impuls (dorongan hati), dalam tahap pertama ini tindakan itu melibatkan rangsangan pancaindra seketika dan reaksi aktor terhadap rangsangan, kebutuhan untuk melakukan sesuatu terhadapanya. Aktor baik manusia atau nonmanusia dapat merespons seketika dan tanpa berfikir terhadap impuls itu, akan tetapi aktor manusia lebih mungkin untuk memikirkan respon yang tepat. Dalam memikirkan suatu respons, orang akan mempertimbangkan bukan hanya situasi seketika, tetapi juga pengalaman-pengalaman masa lampau dan mengantisipasi hasil-hasil masa depan tentang tindakan itu. Tahap yang kedua dari tindakan adalah Persepsi, dimana persepsi ini sang aktor mencari, dan bereaaksi terhadap stimuli yang berhubungan dengan impuls. Orang mempunyai kemampuan untuk merasakan atau memahami stimuli melalui mendengar, membaui, mencecap, dan seterusnya. Selanjutnya, orang biasanya dihadapkan dengan banyak stimuli yang berbeda, dan mereka mempunyai kemampuan untuk memilih mana yang harus diperhatikan dan mana yang harus diabaikan.
Yang ketiga yaitu Manipulasi, ketika impuls telah mewujudkan diri dan objek telah dirasakan, langkah selanjutnya adalah memanipulasi objek atau mengambil tindakan berkenaan dengannya. Bagi Mead, fase manipulasi merupakan suatu jeda temporer yang penting di dalam proses itu sehingga suatu respons tidak diwujudkan seketika. Selanjutnya tahap keempat Penyelesaian, setelah melalui tahap-tahap awal tadi, sang aktor mungkin memutuskan untuk mengambil tindakan yang memuaskan impuls semula dimana tindakan akhir ini disebut sebagai penyelesaian. Dalam pandangannya Mead berpandangan bahwa tindakan tidak hanya melibatkan satu orang, tetapi tindakan sosial melibatkan dua orang atau lebih. Gerak isyarat (gesture) dalam pandangan Mead merupakan mekanisme dasar di dalam tindakan sosial dan di dalam proses sosial secara lebih umum. Mead mendefinisikan gerak isyarat adalah gerakan-gerakan dari organisme pertama yang bertindak sebagai stimuli spesifik yang membangkitkan secara sosial respons-respons yang tepat pada organisme yang kedua.
Kemudian adanya simbol-simbol signifikan, simbol signifikan sendiri adalah suatu jenis gerak isyarat, yang hanya dapat dibuat manusia. Gerak isyarat menjadi simbol signifikan bila ia dibangunkan pada individu yang sedang membuatnya menjadi jenis respons yang sama tidak perlu identik, dimana kita bisa berkomunikasi dengan mempunyai simbol signifikan. Gerak isyarat fisik dapat menjadi signifikan tetapi tidak ideal sebagai simbol signifikan karena orang tidak mudah melihat atau mendengar gerak isyarat fisiknya sendiri. Oleh karena itu, ucapan-ucapan vokal adalah yang paling mungkin menjadi simbol signifikan, meskipun tidak semua vokalisasi adalah simbol-simbol yang demikian. Sekumpulan isyarat vokal paling yang paling mungkin menjadi simbol signifikan adalah bahasa, suatu simbol yang menjawab suatu makna di dalam pengalaman individu pertama dan yang juga membangkitkan makna itu pada individu kedua. Ketika gerak isyarat itu mencapai situasi demikian ia telah menjadi hal yang kita sebut bahasa. Sekarang isyarat itu merupakan suatu simbol signifikan dan menandakan arti tertentu. Mead juga mempunyai pandangan akan pikiran, definisi pikiran menurut Mead ialah sebagai suatu proses dan bukan benda, sebagai suatu percakapan batin dengan diri sendiri, tidak ditemukan di dalam individu, itu bukan intrakranial tetapi suatu fenomena sosial. Pikiran muncul dan berkembang di dalam proses sosial dan merupakan bagian integral dari proses itu. Proses sosial mendahului pikiran, ia bukan produk pikiran seperti yang banyak dipercaya. Mead juga melihat pikiran dengan cara lain yang pragmatik. Yakni, pikiran melibatkan proses berfikir yang berorientasi ke arah pemecahan masalah. Dunia nyata yang penuh dengan masalah, dan fungsi pikiranlah untuk mencoba memecahkan masalah-masalah itu dan memungkinkan manusia bekerja secara lebih efektif di dalam dunia.
Pemikiran Mead tentang pikiran melibatkan ide-idenya mengenai konsep diri yang sangat penting, pada dasarnya kemampuan kemampuan untuk menjadikan diri sendiri sebagai objek, diri adalah kemampuan khas untuk menjadi subjek dan objek. Agar dapat mempunyai diri, para individu harus mampu keluar dari dirinya sehingga dapat mengevaluasi diri, sehingga dapat menjadi objek bagi diri sendiri. Untuk melakukan hal itu, pada dasarnya orang menempatkan dirinya di dalam medan eksperiensial yang sama sebagaimana mereka menempatkan setiap orang lainnya. Setiap orang adalah bagian penting dari situasi eksperiensial itu, dan orang harus memperhitungkan dirinya jika mereka ingin mampu bertindak secara rasional di dalam suatu situasi tertentu. Akan tetapi, orang tidak dapat mengalami diri sendiri secara langsung. Mereka dapat melakukannya hanya dengan menempatkan diri secara tidak langsung di dalam posisi orang lain dan memandang diri dari sudut pandang itu. Sudut pandang yang darinya seseorang memandang dirinya sendiri dapat berupa sudut pandang seorang individu khusus atau sudut pandang kelompok sosial sebagai suatu keseluruhan. Seperti yang dinyatakan oleh Mead, hanya dengan mengambil peran orang lain kita mampu kembali ke diri kita sendiri.
Untuk menjelaskan diri Mead membaginya ke dalam beberapa tahapan, yang pertama adalah perkembangan anak, di permulaan awal ini Mead melihat percakapan gerak isyarat sebagai latar belakang untuk diri, tetapi itu tidak melibatkan suatu diri karena di dalam percakapan seperti ini orang tidak mengambil diri sebagai objek. Mead melacak permulaan diri melalui dua tahap saat tahap perkembangan anak, tahap sandiwara adalah tahap anak-anak belajar mengambil sikap orang-orang tertentu untuk dirinya. Dari hasil sandiwara itu anaka-anak akan belajar baik menjadi subjek atau objek dan mulai mampu membangun suatu diri. Akan tetapi, itu adalah diri yang terbatas karena sang anak hanya dapat mengambil peran-peran khas dan orang lain yang terpisah.
Selanjutnya tahap permainan, sementara di dalam tahap sandiwara sang anak mengambil peran orang lain yang terlibat di dalam permainan, anak-anak harus mengambil peran setiap orang lain yang terlibat di dalam permainan itu. Selanjutnya, peran-peran berbeda tersebut harus mempunyai hubungan yang jelas antara satu sama lain. Di dalam tahap permainan itu, anak-anak bukan keseluruhan yang teratur karena mereka bermain pada serangkaian peran yang berlainan. Hasilnya, dalam pandangan Mead mereka kekurangan kepribadian yang nyata. Akan tetapi, di dalam tahap permainan itu, pengaturan demikian mulai ada dan suatu kepribadian yang nyata mulai muncul. Anak-anak mulai mampu berfungsi di dalam kelompok-kelompok yang teratur dan yang paling penting menentukan apa yang akan mereka lakukan di dalam suatu kelompok yang spesifik.
Generalized other, dalam tahap ini orang lain yang digeneralisasikan adalah sikap seluruh komunitas. Untuk mempunyai diri, orang harus menjadi anggota komunitas dan diarahkan oleh sikap-sikap yang lazim bagi komunitas itu. Sementara sandiwara hanya memerlukan potongan-potongan diri, permainan memerlukan sautu diri yang koheren. Suatu kelompok menharuskan bahwa individu mengarahkan kegiatan mereka selaras dengan sikap-sikap orang lain yang digeneralisasi. Orang lain yang digeneraslisasi juga menggambarkan kecondongan Mead yang akrab untuk memberikan prioritas kepada hal yang sosial, karena melalui orang lain yang digeneralisasilah kelompok itu mempengaruhi perilaku individu.
Mead mengenali dua fase diri, yaitu aku dan diriku dimana aku adalah respons seketika seorang individu kepada orang lain. Ia adalah aspek diri yang tidak dapat dihitung, tidak dapat diramalkan, dan kreatif sementara diriku adalah suatu individu konvensional yang biasa. Melalui diriku lah masyarakat mendominasi individu. Memang Mead mendefinisikan ide pengendalian sosial sebagai dominasi ungkapan diriku atas ungkapan aku. Diriku memampukan individu hidup secara nyaman di dunia sosial, sementara aku memungkinkan perubahan di dalam masyarakat. Oleh karena itu aku dan diriku adalah bagian dari keseluruhan proses sosial dan memungkinkan para individu dan masyarakat berfungsi secara lebih efektif.
Daftar Pustaka
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Zeitlin, M. Irving. 1995. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

Nama : Raya Surya Samudera
NIM : D0313059
LEWIS ALFRED COSER
Pada awalnya Coser itu merupakan salah satu tokoh yang terikat dalam model sosiologi dengan tekanan pada struktur sosial dimana ia sudah lama terikat dengan model sosiologi tersebut kira-kira selama 20 tahun lebih, dimana dari model yang mengikat Coser tersebut menunjukkan bahwa adanya pengabaian studi tentang konflik sosial. Dalam kenyataannya memang perspektif antara yang mendukung teori fungsional struktural itu berbeda dengan para pendukung teori konflik, kedua teori ini benar-benar dipisahkan satu sama lain, tetapi Coser mempunyai keinginan untuk mempersatukan kedua pendekatan tersebut yaitu fungsional struktural dan teori konflik. Coser mengakui bahwa beberapa susunan struktural merupakan hasil persetujuan dan konsensus, satu proses yan ditonjolkan oleh pihak fungsional struktural, tetapi dia juga menunjuk pada proses lain yaitu konflik sosial. Akan tetapi beberapa ahli sosiologi kontemporer sering mengesampingkan tentang analisa konflik sosial dimana para ahli ini hanya memandang konflik sosial sebagai patologis untuk kelompok sosial. Kemudian Coser berusaha untuk menunujukkan berbagai sumbangan konflik yang dinilainya akan berdampak positif untuk membentuk serta mempertahankan struktur. Coser melakukan ini semua dengan dasar pondasinya berasal dari pernyataan-pernyataan yang ada hubungan dengan konflik sosial, yaitu berasal dari ahli sosiologi dari Jerman yaitu Georg Simmel.
Georg Simmel berpendapat bahwa konflik merupakan salah satu interaksi sosial yang dasar, dan bahwa proses konflik dihubungkan dengan bentuk-bentuk alternatif seperti kerja sama, dalam pelbagai cara yang tak terhitung jumlahnya dan bersifat kompleks. Seperti yang dilakukan oleh Georg Simmel, Coser tidak mencoba untuk membuat atau menghasilkan teori secara menyeluruh yang mencakup seluruh fenomena sosial. Karena yakin bahwa setiap usaha untuk menghasilkan suatu teori sosial yang holistis adalah prematur, Simmel tidak pernah menghasilkan teori yang cakupannya makrososiologis seperti Emile Durkheim, Max Weber, atau Karl Marx. Georg Simmel lebih senang dengan memepertahankan pendapatnya bahwa sosiologi itu bekerja untuk menyempurnakan dan mengembanngkan bentuk-bentuk atau konsep-konsep sosiologis dimana isi dunia empiris dapat ditempatkan. Dalam memeperjelas pernyataannya tentang bentuk dan isi, Georg Simmel membandingkan antara geometri dengan sosiologi, dimana dalam mempelajari geometri kita bisa menemukan bentuk-bentuk fisik seperti segi tiga, segi empat, lingkaran dan lain sebagainya, sementara dalam sosiologi itu mempelajari bentuk-bentuk sosial. Selanjutnya untuk isi, yang termasuk isi adalah seperti bentuk, ukuran, warna bahan dan lain sebagainya, dari masing-masing bentuk tersebut dapat berubah, tetapi bentuk dasarnya tetap bisa diketahui.
Konflik merupakan salah satu bentuk sosiologis yang dibahas oleh Simmel, dimana konflik merupakan bentuk interaksi dimana tempat, waktu serta intensitas dan lain sebagainya tunduk pada perubahan, sebagaimana dengan isi bentuk-bentuk geometri yang dapat berubah. Meskipun terdapat perbedaan antara Coser dan Georg Simmel, dimana Coser tidak terlalu banyak menaruh perhatian pada hubungan timbal-balik yang kompleks dan tidak ketara antara bentuk-bentuk konflik dan interaksi lainnya di tingkat antar pribadi, melainkan lebih menyoroti pada konsekuensi-konsekuensi yang timbul bagi sistem sosial yang lebih besar dimana konflik itu terjadi. Dari pembahasan konflik oleh Simmel ini Coser mengembangkan dan memeperluas konsep yang telah diciptakan oleh Simmel dalam menggambarkan kondisi-kondisi dimana konflik bisa menimbulkan konsekuensi-konsekuensi positif, yang dengan demikian akan bersifat menguntungkan.
Menurut Coser konflik itu bisa digunakan sebagai bentuk interaksi, sebenarnya kita itu tidak perlu melihat konflik yang terjadi itu hanya sebatas gejala-gejala patologis sosial semata, sehingga kita harus menghindari konflik itu sendiri dalam kehidupan sosial. Dalam kehidupan masyarakat konflik itu merupakan gejala yang biasa, bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan siapapun bisa mengalami konflik tersebut, apabila seseorang atau kelompok dalam berinteraksi dengan yang lainnya memeperlihatkan adanya saling pengertian satu sama lain maka muncullah persahabatan antar mereka contohnya saya dulu saat OSMARU (orientasi mahasiswa baru) bertemu dengan beberapa teman baru yang satu jurusan dengan saya seperti Ilham, Afif, Anggita, Fitri dan lainnya, lalu kami mulai berkomunikasi, memeperkenalkan diri satu sama lain, lalu bercerita tentang banyak hal kemudian karena kami saling mengerti sama lain maka akhirnya mulai bersahabat, sebaliknya bila interaksi itu tidak menemukan kesepahaman atau pengertian antar dua pihak maka yang terjadi adalah konflik, misalnya saat SMA dulu teman sekelas berkonflik karena memperebutkan sebuah obyek wisata dimana obyek wisata itu akan dijadikan laporan tugas kelompok mengenai obyek wisata yang belum terpublikasikan atau belum populer di kabupaten Karanganyar karena tidak ada yang mau mengalah satu sama lain serta tidak ada kesepahaman antar kedua pihak maka teman-teman saya itu saling bermusuhan. Alasan inilah yang membuat Coser menegaskan bahwa konflik itu merupakan gejala-gejala yang sebenarnya normal-normal saja, bahkan konflik itu sendiri merupakan unsur atau komponen yang penting di dalam interaksi segenap anggota masyarakat.
Selanjutnya Coser menjelaskan tentang beberapa fungsi positif dari konflik, konflik sendiri dapat dijadikan cara atau alat untuk mempersatukan dan mempertegas sistem sosial yang ada, contoh yang paling jelas untuk memahami fungsi positif dari konflik adalah hal-hal yang menyangkut tentang dinamika hubungan antara in-group (kelompok dalam) dengan out-group (kelompok luar) yang pertama adalah kekuatan solidariitas internal dan integrasi kelompok dalam (in group) akan bertambah tinggi apabila tingkat permusuhan dengan kelompok luar besar contohnya di kampung saya pernah terjadi permusuhan antara orang madura dengan salah satu perguruan silat dimana terjadi pengeroyokan terhadap orang madura karena terjadi kesalahpahaman antara antar oknum lalu dari pihak perguruan silat itu mendatangi orang madura itu lalu mengeroyoknya beramai-ramai dengan datang lengkap dengan seragam silat mereka, dengan beramai-ramai inilah menunjukkan bahwa solidaritas mereka kuat dan siap membantu jika ada anggota yang terkena masalah atau konflik, yang kedua integritas yang semakin tinggi dari kelompok yang terlibat dalam konflik dapat membantu memperkuat batas antara kelompok itu dan kelompok-kelompok lainnya dalam lingkungan itu, yang ketiga di dalam kelompok itu ada kemungkinan berkurangnya toleransi akan perpecahan atau pengotakan, dan semakin tingginya tekanan pada konsensus dan konformitas, yang keempat para penyimpang dalam kelompok itu tidak lagi ditoleransi, kalau mereka tidak dapat dibujuk masuk ke jalan yang benar, mereka diusir atau dimasukkan dalam pengawasan yang ketat, dan yang kelima sebaliknya apabila kelompok itu tidak terancam konflik dangan kelompok luar yang bermusuhan, tekanan yang kuat pada kekompakan, konformitas, dan komitmen terhadap kelompok itu mungkin berkurang.
Dalam setiap masyarakat seringkali berkembang suatu mekanisme untuk meredakan ketegangan yang ada, sehingga struktur sebagai keseluruhan tidak terancam keutuhannya. Mekanisme ini oleh Coser dinamakan Savety Value (katup penyelamat), sebagaimana yang dinyatakan oleh Coser lewat katup penyelamat itu permusuhan dihambat agar tidak berpaling melawan obyek aslinya. Tetapi penggantian yang demikian mencakup juga biaya bagi sistem sosial dan individu, mengurangi tekanan untuk menyempurnakan sistem untuk memenuhi kondisi-kondisi yang sedang berubah maupun membendung ketegangan dalam diri individu, menciptakan kemungkinan tumbuhnya ledakan-ledakan destruktif. Coser juga mengakui bahwa konflik itu dapat membahayakan persatuan oleh karena itu perlu dikembangkan cara agar bahaya tersebut dapat dikurangi atau bahkan diredam. Baginya katup penyelamat ini sebagai institusi. Hal ini mengisyaratkan bahwa semua elemen yang terdapat dalam institusi sosial harus terdapat pula di dalam katup penyelamat, sesuatu yang sangat berharga dan benilai dalam konteks ini adalah kesatuan masyarakat. Coser juga berpendapat bahwa katup penyelamat ini disamping dapat berbentuk institusi sosial juga dapat berbentuk tindakan-tindakan atau kebiasaan-kebiasaan yang dapat mengurangi ketegangan karena konflik tidak dapat tersalurkan. Contohnya bila ada mahasiswa yang tidak puas dengan fasilitas kampus yang dirasa kurang maka BEM fakultas atau BEM universitas bisa menjadi katup penyelamat untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa yang tidak puas dengan fasilitas kampus tadi ke pimpinan kampus baik dekan ataupun rektor.
Coser membagi konflik menjadi dua, yang pertama adalah konflik realistis, konflik ini berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntunngan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Misalnya demo mahasiswa yang menuntut penurunan harga BBM kepada pemerintah yang memang punya wewenang untuk menetapkan harga BBM, dengan alasan jika BBM naik maka seluruh harga barang dan jasa juga akan naik, ini akan memberatkan bagi rakyat. Selanjutnya konflik yang tidak realistis adalah konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Contohnya dalam masyarakat tradisional yang masih kuat kepercayaannya terhadap hal magis, ketika mereka mempunyai musuh, dan sedang berkonflik dengan musuhnya tersebut mereka menyerang musuhnya dengan serangan gaib seperti santet.

Daftar Pustaka
Poloma, Margaret M. 2000. Sosiologi Kontemporer. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.
Argyo Demartoto. 2007. Mosaik Sosiologi. Surakarta. UNS Press.

Nama               : Raya Surya Samudera

NIM                : D0313059

KAPITALISME

Kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang dalam pelaksanaannya mempunyai persaingan bebas dan ketat serta berdasarkan untuk mencari keuntungan, hak milik untuk alat-alat produksi dimiliki oleh pribadi. Paham ini merupakan salah saru dari bagian gerakan besar Individualisme, runtuhnya lembaga-lembaga ekonomi pada abad pertengahan berakibat pada meningkatnya volume perdangan jarak jauh di antara pusat-pusat kapitalis dengan teknik-teknik kapitalis. Industri-industri khusus tumbuh pesat untuk melayani perdangangan jarak jauh serta kota-kota dagang dan industri yang dihasilkan lambat laun menciptakan tekanan yng memperlemah struktur intern pertanian yang mengandalkan perbudakan yang menjadi ciri rezim feodal. Perubahan dalam perdagangan, industri, dan pertanian secara serentak pada Abad Pertengahan akhirnya mengubahnya menjadi tipe masyarakat ekonomis yang baru

Flanders pada abad ke-13 dan Florence pada abad ke-14 merupakan dua kantong kapitalis penting. Sejarah keduanya dapat menjelaskan kondisi-kondisi hakiki bagi perkembangan kapitalisme di inggris. Usaha besar-besaran pada akhir Abad Pertengahan dan awal Eropa modern adalah industri wol dan kebanyakan pola bisnis yang kelak menjadi ciri kapitalisme berkembang dalam hubungannya dengan perdagangan jarak jauh wol dan sandang.

Di Flanders meletus konflik relolusioner antara para pengrajin dengan kaum bangsawan yang menjadi pedangan pemilik pabrik. Para pekerja berhasil menghancurkan pemusatan kekuatan ekonomi dan politik di tangan para pengusaha kuat di bidang sandang yang kemudian pada gilirannya dihancurkan oleh kantong-kantong revolusi yang dasyat yang menghancurkan industri wol dan runtuhnya kedua belah pihak. Gejala serupa terulang di Florence yang selama abad ke-14 menjadi salah satu kota industri besar Eropa. Dengan demikian, baik Flanders maupun Florence tidak berhasil melestarikan industri-industri besar mereka karena mereka tidak berhasil memecahkan masalah sosial yang terjadi dari tuntutan-tuntutan yang saling berlawanan antara segelintir kapitalis kaya dengan sejumlah pekerja.

Di akhir abad pertengahan industri sandang di Inggris menjadi industri yang terbesar di Eropa. Penyebabnya adalah bahan mentah wol mudah di dapat di dalam negeri dan karena adanya inovasi dalam pemintalan yaitu dengan menggunakan mesin, di samping itu, industri sandang di Inggris muncul di daerah-daerah pedesaan sehingga terhindar dari konflik-konflik sosial yang seperti terjadi di Flanders dan Florence. Meskipun juga menghadapi banyak masalah dan kesulitan, industri sandang di Inggris yang terletak di pedesaan ini terus tumbuh pesat. Jadi, industri wol yang mempelopori kapitalisme sebagai sistem sosial dan ekonomi serta untuk pertama kali membuatnya berakar di tanah inggris.

Reformasi protestan pada abad ke-16 dan ke-17 yang juga disertai perubahan-perubahan ekonomi mengakibatkan berkembangnya kapitalisme di Eropa Barat, khususnya di Belanda dan Inggris. Korelasi kronologi dan geografis antara agama baru dan dan berkembangnya bidang ekonomi menimbulkan kesan bahwa Protestanisme memiliki makna penting bagi timbulnya kapitalisme modern. Etika protestan menjadi perangsang kuat bagi tata ekonomi baru. Dalam perilaku hidup sehari-hari, munculah satu tipe dunia baru yang berarti kerja keras, kesederhanaan, kelugasan, dan efisiensi dalam bekerja di bidang ekonomi. Diterapkan dalam suasana perniagaan dan industri yang terus berkembang, kredo protestan mengajarkan bahwa bertambahnya kekayaan wajib digunakan untuk menghasilkan kekayaan yang lebih banyak lagi. Kapitalisme awal juga menjadi saksi negara-negara nasional kuat Eropa Barat yang menjalankan kebijakan-kebijakan merkantilisme. Jadi, setiap negara berusaha untuk mendapatkan neraca perdagangan yang aktif. Dalam memperoleh nilai ekspor lebih besar dari impor atau yang disebut dengan surplus, dalam bentuk logam mulia, negara harus mempertahankan perdagangan berimbang yang menguntungkan.

Dalam sistem kapitalis, hak milik atas alat-alat produksi (tanah, pabrik, mesin-mesin, sumber-sumber alam) ada di tangan orang perseorangan, tidak di tangan negara. Hal ini tidak menghalangi dipegangnya hak-hak monopoli biasa dan urusan-urusan departemen-departemen umum yang pokok oleh pemerintah. Tetapi hal seperti ini lebih dianggap sebagai pengecualian daripada suatu ketentuan. Kecenderungan peradaban kapitalis lebih menyukai kepemilikan perseorangan atas alat-alat produksi didasarkan atas dua pertimbangan. Pertama, kepemilikan atas harta produktif berarti kekuasaan atas kehidupan orang lain. Lebih disukai kalau kekuasaan semacam ini dipecah di antara banyak pemilik harta daripada dipegang oleh satu pemilik. Tambahan pula, kekuasaan ekonomi dari pemilik-pemilik harta perseorangan dapat dibatasi oleh pemerintah pilihan rakyat. Apabila negara memiliki segala harta produktif, maka bergabunglah kekuasaan ekonomi dan kekuasaan politik. Harapan bagi lemerdekaan ekonomi perseorangan pun akan menjadi kabur. Kedua, anggapan cara berpikir kapitalis bahwa kemajuan di bidang teknologi akan lebih mudah dicapai apabila setiap orang mengurus urusannya sendiri dan mampunyai dorongan pribadi untuk berbuat demikian.

Prinsip lainnya dari sistem kapitalis ialah prinsip ekonomi pasar. Di zaman pra-kapitalis, ekonomi pada umunya bersifat lokal dan mencukupi diri sendiri. Setiap keluarga menghasilkan hanya sekira-kira yang diperlukannya dan menambah kebutuhan-kebutuhannya yang mudah dengan jalan barter atau pertukaran barang di pasar setempat yang primitif. Pembagian pekerjaan hampir tidak dikenal. Setiap keluarga terpaksa melakukan berbagai macam pekerjaan yang dewasa ini disebar di antara ratusan kerajinan dan keahlian yang bermacam-macam. Selain itu jenis pekerjaan seseorang dan harga yang dapat dimintanya untuk barang-barang dan jasa-jasanya sebagian besar ditentukan oleh adat kebiasaan. Sebaliknya, ekonomi pasar sistem kapitalis didasarkan atas spesialisasi pekerjaan. Setiap orang hanya menyediakan bagian yang sangat kecil dari keperluan-keperluannya dengan kecakapan dan pekerjaannya sendiri. Produksi dan jasa-jasa tidak dimaksudkan untuk rumah tangga penghasil sendiri, tetapi untuk pasar.

Harga pasar tidak ditentukan oleh adat dan kebiasaan juga oleh perintah-perintah seseorang penguasa politik. Fungsi ini dipenuhi oleh suplai dan permintaan. Apabila harga-harga tinggi, maka pasar memberikan tanda bahwa penyediaan barang-barangatau jasa-jasa tertentu akan menguntungkan.

Ciri penting ekonomi kapitalis adalah persaingan. Dalam ekonomi pra-kapitalis, adat dan kebiasaan yang menentukan harga barang-barang dan jasa-jasa. Banyak orang tidak dapat bersaing sama sekali, karena mereka dikecualikan dari pekerjaan-pekerjaan tertentu. Dalam ekonomi kapitalis, setiap orang bebas untuk memilih pekerjaan apa yang disukainya. Tidak boleh ada pembatasan atau pengecualian yang dibuat oleh setiap macam pekerjaan dan keahlian, pasar kapitalis juga menyediakan tempat untuk barang-barang dan jasa-jasa yang ditawarkan untuk dijual. Sedang jumlah dan mutunya diatur dengan jalan persaingan bebas. Anggapan pokok dalam ekonomi kapitalis klasik ialah ada perimbangan yang relatif antara kesanggupan tawar-menawar di kalangan dan di antara para pembeli dan penjual.

Kebebasan untuk mengadakan persaingan di pasar berasal dari empat kebebasan kapitalis yang pokok, yaitu kebebasan untuk berdagang dan mempunyai pekerjaan, kebebasan untuk mengadakan kontrak, kebebasan untuk mengadakan kontrak, kebebasan hak milik, dan kebebasan untuk membuat untung. Apabila satu dari keempat kebebasan ini dibatasi, maka berkuranglah persaingan bebas. Pilihan lain dari persaingan adalah monopoli perseorang, atau negara yang serba berkuasa. Dalam kedua hal, penetapan harga barang-barang dan jasa-jasa yang semau-maunya oleh sesuatu kekuasaan de facto atau oleh sesuatu kekuasaan yang sah saperti halnya negara, akan menggantikan pengaruh timbal-balik antara pembeli dan penjual secara bebas, menurut keinginan mereka sendiri.

Pada Perang Dunia I menjadi tanda titik balik perkembangan kapitalisme pada umumnya dan kapitalisme Eropa pada khususnya. Pasar dunia berkembang, standar emas hampir menjadi universal, Eropa bertindak selaku bank dunia, Afrika menjadi jajahan Eropa dan Asia dibagi-bagi menjadi berbagai wilayah pengaruh yang didominasi oleh kekuatan-kekuatan Eropa, dan Eropa tetap menjadi pusa peningkatan volume perdagangan internasional.

Namun, sesudah Perang Dunia I, kecenderungan-kecenderungan itu berbalik arah. Pasar internasional surut, standar emas ditinggalkan dan alat pembayaran nasional yang terkendali lebih disukai, hegemoni perbankan berpindah dari Eropa ke Amerika Serikat, rakyat Asia dan Afrika berhasil banngkit melawan kolonialisme Eropa, dan berbagai hambatan perdagangan bertambah banyak.

Ketika Perang Dunia II pecah pada 1939, masa kapitalis sungguh-sungguh kelihatan suram. Pada akhir perang, kecenderungan itu diperkuat tatkala Partai Buruh Inggris menang mutlak dalam pemilu dan mulai menasionalisasi industri-industri dasar, termasuk batu bara, transportasi, komunikasi, kepentingan umum, dan Bank of England. Perusahaan-perusahaan kapitalis mampu bertahan di Inggris, Amerika Serikat, Jerman Barat, dan Jepang serta negara-negara lainnya pascaperang.

Daftar Pustaka

Leo Agung, 2013, Sejarah Intelektual, Yogyakarta, Ombak.

Ebenstein William, 2006, Isme-isme yang Mengguncang Dunia; Komunisme, Fasisme, Kapitalisme, Sosialisme, Yogyakarta, Narasi.

 

Nama               : Raya Surya Samudera

NIM                : D0313059

INTERAKSI SOSIAL

Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara perorangan dengan kelompok manusia. Awal mula interaksi sosial adalah ketika seseorang bertemu dengan orang lain dengan kata lain interaksi akan terjadi dengan syarat minimun ada dua orang yang bertemu langsung misalnya saya bertemu dengan teman saya di kampuslalu kami mengobrol berdua atau dengan perantara misalnya handphone, walky talky, jejaring sosial, misal saya membuka facebook saya, lalu saya membuka chating, lalu saya chating dengan teman saya yang sedang online facebooknya.

Dalam interaksi sosial pihak yang melakukannya interaksi bisa saja dengan saling menyapa, berbicara satu dengan lain, dan bisa saja interaksinya dengan berkelahi saling pukul-memukul. Selanjutnya pada saat kedua orang bertemu tapi tak saling menyapa, tidak berbicara dan tidak mengeluarkan tanda-tanda, itu pun interaksi sosial bisa berlangsung, ini dikarenakan orang satu dengan orang yang satunya lagi saling menyadari akan keberadaan yang lainnya yang hal ini menimbulkan perubahan dalam perasaan maupun syaraf masing-masing  contohnya seperti bau badan atau minyak wangi dari salah satu orang tercium orang lainnya sehingga ada perubahan perasaan dari orang lain tersebut. Hal itu akan menimbulkan kesan dalam pikiran seseorang yang dari pikiran itulah ia akan menentukan tindakan apa yang akan dilakukan.

Dasar dari berlangsungnya suatu proses interaksi sosial adalah didasarkan pada 4 faktor, yaitu ada faktor imitasi, sugesti, identifikasi serta simpati.

Yang pertama adalah faktor imitasi,imitasi adalah proses sosial yang dilakukan dengan meniru orang lain baik itu dari gaya penampilan, rambut, sikap, dan lain sebagainya. Contoh seorang yang menyukai atau fans pada Cristiano Ronaldo maka orang itu akan meniru Ronaldo, baik meniru gaya rambutnya, penampilan atau bahkan gaya ancang-ancang saat akan melakukan tendangan bebas khas Ronaldo.

Kemudian faktor Sugesti yang berlangsung apabila orang memberi suatu pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Contohnya seperti iklan suatu merek rokok, dimana dalam iklan itu aktornya adalah orang yang punya kharisma gagah, berani, dan pintar yang tersirat dari iklan ini adalah jika seseorang membeli rokok ini maka ia akan tersugesti dan merasa seakan jadi orang sama pada iklan rokok tersebut yang berkharisma gagah, berani, dan pintar.

Faktor ketiga, faktor Identifikasi yang sebenarnya merupakaan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini. Contohnya ada orang yang fans berat pada Michael Jackson, ia melakukan perubahan besar-besaran pada dirinya tak lagi gaya penampilan dan perilaku saja tapi lanjut pada operasi plastik pada mukanya agar mukanya identik dengan bintang idolanya.

Faktor terakhir adalah proses Simpati, dimana simpati ini merupakan suatu proses orang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya. Contohnya adalah ketika ada teman yang sedang sedih karena di putus pacarnya, kita ikut bersedih seperti dia, karena dia teman dekat kita.

Bentuk-bentuk interaksi sosial

Bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (coorperation) contohnya adalah suatu tim futsal jika mereka ingin menang maka mereka akan bekerja sama untuk menciptakan gol ke gawang lawan mulai dari kiper, bek, pemain tengah sampai penyerang itu mereka semua bahu membahu dengan peran masing-masing agar gol tercipta, lalu ada  persaingan (competition), contohnya persaingan antara Liverpool, Chelsea dan Manchester City dalam memperebutkan gelar liga inggris musim 2013/2014 dimana mereka saling bersaing mengumpulkan poin terbanya, karena barang siapa yang mendapat poin paling banyak maka ia akan jadi juara, dan bahkan interaksi sosial dapat berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict), contohnya tawuran antar pelajar SMA yang terjadi di jalan, dimana mereka itu salaing lempar batu, saling adu jotos bahkan ada yang membawa ger motor yang diikat dengan ikat pinggang sebagai senjata untuk menyerang lawannya, hal seperti ini pun masuk dalam interaksi sosial.

Daftar Pustaka

Soerjono Soekanto, 2010, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Pers.

Nama               : Raya Surya Samudera

NIM                  : D0313059

 

MASYARAKAT SEBAGAI PREOSES INTERAKSI

Dalam teori sudut pandang yang menjelaskan tentang bagaimana cara melihat seorang individu hanya merupakan bagian dari masyarakat yang di ibaratkan seperti bagian tubuh mahluk hidup yang mana bagian tubuuh tersebut terdiri dari bermacam komponen yang membentuk bagian tubuh tersebut hingga tersusun jadi satu sabagai satu kesatuan yang utuh,  sudut pandang ini disebut dengan sudut pandang atau pendekatan  organis, dan yang kedua adalah sudut pandang atau pendekatan  yang di lihat dari masyarakat yakni masyarakatlah yang membentuk individu, bukan individu yang membentuk masyarakat seperti misalnya seorang anak yang lahir dan tumbuh dewasa maka ia akan diberikan pengetahuan dan cara berperilaku yang sesuai dengan budaya, nilai, dan norma masyarakat yang ada di sekitar lingkungannya

Dari kedua pendekatan itu ada satu pendekatan lagi yang menggabungkan kedua sudut pandang yang berbeda tersebut yaitu pendekatan interaksi, yang intinya dalam bermasyarakat itu individu atau masyarakat harus memahami dan mengerti peran mereka masing-masing dimana individu harus mengikuti peraturan dalam masyarakat dalam kebebasannya dan masyarakat yang menjadi pembuat peraturan tidak boleh secara leluasa dalam mengatur individu, harus ada batas-batasan tertentu dalam memperlakukan individu tersebut.

Pada masyarakat sebagai proses interaksi menurut Goerge Simmel yang memberikan beberapa pengertian dasar untuk ilmu sosial modern, yaitu

  1. Masyarakat terdiri dari jaringan relasi-relasi antara orang yang menjadikan mereka bersatu.
  2. Relasi-relasi aktif antara orang yang berkelompok atau bermasyarakat.
  3. Kesatuan-kesatuan sosial tidak hanya terbentuk relasi-relasi integratif dan harmonis.
  4. Tidak semua kesatuan sosial mempunyai lama waktu dan intensitas yang sama.

Di samping manusia adalah mahluk paling sempurna yang dibekali akal pikiran untuk berfikir, ternyata manusia juga memiliki naluri, hal ini di benarkan oleh Thorstein Veblen yang membenarkan bahwa dalam diri manusia ada naluri-naluri yang berpengaruh atas kelakuannya. Veblen membedakan empat naluri manusia yang mempengaruhi kelakuannya, yaitu :

  1. Kecenderungan untuk tahu (idle curiosity)
  2. Kecenderungan untuk menjadi produktif, yaitu menghasilkan sesuatu (naluri kerja, instinct of workmanship)
  3. Kecenderungan untuk membanjak (predatory instinct, yang mendorong orang untuk menikmati barang tanpa bekerja)
  4. Kecenderungan untuk bersikap baik terhadap kaum kerabat dan sesama.

William Graham Sumner, adalah sarjana Sosiologi, guru yang berpengaruh dan pengarang yang yang rajin. Menurut Sumner, sosiologi tidak hanya harus menerangkan bagaimana alam pikiran seseorang dimasyarakatkan, melainkan bagaimana kelakuannya lahirlah diserasikan dengan suatu pola umum. Penjelasan ini diberi olehnya dalam bukunya Folkways. Ia memakai konsep manusia dalam arti luas, yaitu manusia adalah badan dan jiwa, atau pikiran yang berbadan. Jadi manusia itu adalah mahluk yang selalu menggunakan pikiran mereka untuk berfikir sebelum menjalankan kegiatan apa yang akan dilakukan badannya.

Ferdinand Toennies, ia lahir di schleswig, Jerman Timur. Buku paling penting dari beliau adalah Gameinschaft and Gassellschaft.

Gameinschaft menurut Tonnies adalah orang yang memasuki jaringan relasi-relasi kekeluargaan karena lahir. Walaupun kemauan bebas dan pertimbangan rasional dapat menentukan apakah orangnya akan tetap tinggal dalam keluarganya atau tidak, namun relasi itu sendiri tidak tergantung seluruhnya dari kemauan dan pertimbangan itu. Ketiga soko guru yang menyokong Gameinschaft ialah :

  1. Darah
  2. Tempat tinggal atau tanah
  3. Jiwa rasa kekerabatan, ketetanggaan, dan persahabatan

Misalnya, saya seorang suku jawa pergi ke jakarta bertemu orang suku jawa lainnya disana dan saat bertemu itu kami menjadi akrab walaupun baru kenal ( kedekatan kesamaan daerah asal),

Gasselschaft itu tipe asosiasi di mana relasi-relasi kebersamaan dan kebersatuan antara orang berasal dari faktor-faktor lahiriah. Hubungan antara anggota dalam Gasselschaft bersifat formal dan memiliki orientasi pada ekonomi serta nilai guna.

Misalnya, beberapa petani membentuk suatu kelompoktani yang di dalam kelompok tersebut anggota satu dengan lain bisa bertukar pengetahuan mereka dalam hal pertanian untuk membantu agar hasil panen mereka itu bisa lebih meningkat dari segi kualitas dan kuantitas.

 

Veeger, K.J, 1990, Realitas Sosial, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.

Welcome to Blogger Fisip UNS Sites. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Categories
Links: